
Metode arus kas tidak langsung adalah pendekatan penyusunan laporan arus kas yang dimulai dari laba bersih, kemudian disesuaikan dengan berbagai pos non-kas dan perubahan modal kerja untuk mendapatkan nilai arus kas dari aktivitas operasional. Metode ini adalah yang paling banyak digunakan perusahaan di Indonesia, terutama karena datanya sudah tersedia dari laporan laba rugi dan neraca yang sudah dibuat sebelumnya.
Kalau metode langsung (direct method) mengharuskan perusahaan mencatat setiap penerimaan dan pengeluaran kas secara terperinci, metode tidak langsung (indirect method) bekerja mundur. Ia memulai dari angka laba bersih, lalu mengeluarkan semua unsur yang bukan merupakan aliran kas nyata, sampai yang tersisa adalah kas bersih yang benar-benar mengalir dari operasi.
Baca juga: 4 Aspek Pemasaran
Dasar Hukum dan Standar Akuntansi
Di Indonesia, penyusunan laporan arus kas diatur dalam PSAK 2 (Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan Nomor 2) tentang Laporan Arus Kas yang diterbitkan oleh Ikatan Akuntan Indonesia (IAI). Standar ini mengacu pada IAS 7 dalam kerangka IFRS dan sudah berlaku efektif sejak 1 Januari 2011.
PSAK 2 mendefinisikan metode tidak langsung sebagai metode di mana laba atau rugi disesuaikan dengan mengoreksi pengaruh transaksi non-kas, penangguhan atau akrual dari penerimaan atau pembayaran kas untuk operasi di masa lalu atau masa depan, serta pos penghasilan atau beban yang berhubungan dengan arus kas investasi atau pendanaan.
Meski standar lebih merekomendasikan metode langsung karena dianggap lebih informatif, PSAK 2 tetap mengizinkan penggunaan metode tidak langsung. Faktanya, mayoritas perusahaan Indonesia memilih metode ini karena lebih praktis.
Komponen Penyesuaian dalam Metode Tidak Langsung
Inti dari metode tidak langsung adalah proses penyesuaian. Laba bersih belum tentu mencerminkan uang yang benar-benar masuk ke kas perusahaan, karena akuntansi berbasis akrual mencatat pendapatan saat hak timbul dan beban saat kewajiban lahir, bukan saat kas benar-benar berpindah tangan. Metode tidak langsung ibarat melihat jejak kaki untuk menyimpulkan di mana seseorang pernah berdiri, bukan mengikutinya secara langsung dari awal.
Bayangkan perusahaan mencatat penjualan Rp500 juta, tapi pembeli baru akan bayar bulan depan. Laba bersih naik, tapi kas belum masuk. Di situlah penyesuaian dibutuhkan.
Berikut kategori penyesuaian utama yang digunakan dalam metode tidak langsung:
1. Penyesuaian Beban Non-Kas
Beban non-kas adalah pengeluaran yang dicatat sebagai beban dalam laporan laba rugi tetapi tidak mengurangi saldo kas secara nyata. Yang paling umum adalah depresiasi dan amortisasi. Karena depresiasi sudah mengurangi laba bersih padahal tidak ada uang keluar, nilainya harus ditambahkan kembali.
Selain depresiasi, kategori ini mencakup amortisasi aset tak berwujud, beban piutang tak tertagih, dan penyisihan aset.
2. Penyesuaian Keuntungan dan Kerugian Non-Operasional
Keuntungan dari penjualan aset tetap masuk ke laporan laba rugi, tapi aliran kasnya masuk ke bagian investasi, bukan operasi. Karena itu, keuntungan seperti ini harus dikurangkan dari laba bersih di bagian operasional agar tidak dihitung dua kali. Sebaliknya, kerugian penjualan aset ditambahkan kembali.
3. Perubahan Modal Kerja
Ini adalah bagian yang sering membingungkan akuntan pemula. Perubahan akun aset lancar dan liabilitas lancar mencerminkan selisih waktu antara pengakuan pendapatan/beban dan penerimaan/pengeluaran kas yang sesungguhnya.
Aturan dasarnya sederhana: kenaikan aset lancar (seperti piutang atau persediaan) dikurangkan dari laba bersih, karena berarti ada uang yang belum masuk. Penurunan aset lancar ditambahkan. Sebaliknya untuk liabilitas lancar: kenaikan utang usaha ditambahkan ke laba bersih karena berarti ada pengeluaran yang ditunda, penurunan utang dikurangkan.
Langkah-Langkah Penyusunan Arus Kas Tidak Langsung
Penyusunan laporan arus kas metode tidak langsung membutuhkan dua dokumen utama: laporan laba rugi periode berjalan dan neraca komparatif dua periode (periode ini dan periode sebelumnya). Perubahan antar-periode itulah yang menjadi dasar perhitungan.
Panduan dari Pajakku menguraikan proses penyusunannya secara sistematis, termasuk penyesuaian akun modal kerja yang sering menjadi titik bingung akuntan pemula.
Secara ringkas, langkah-langkahnya adalah sebagai berikut:
- Siapkan laporan laba rugi dan neraca komparatif. Pastikan keduanya untuk periode yang sama. Neraca komparatif menampilkan saldo awal dan saldo akhir setiap akun.
- Mulai dari laba bersih. Salin angka laba bersih dari laporan laba rugi sebagai titik awal bagian aktivitas operasional.
- Tambahkan beban non-kas. Depresiasi, amortisasi, dan beban non-kas lainnya ditambahkan karena sudah mengurangi laba tanpa mengurangi kas.
- Sesuaikan keuntungan dan kerugian dari aktivitas non-operasional. Kurangkan keuntungan penjualan aset, tambahkan kerugian penjualan aset.
- Hitung perubahan setiap akun modal kerja. Bandingkan saldo awal dan akhir setiap akun aset lancar dan liabilitas lancar, lalu terapkan aturan penambahan atau pengurangan.
- Jumlahkan semua penyesuaian dengan laba bersih. Hasilnya adalah arus kas bersih dari aktivitas operasional.
- Susun bagian investasi dan pendanaan secara terpisah. Kedua bagian ini menggunakan metode langsung bahkan dalam laporan yang menggunakan metode tidak langsung untuk aktivitas operasional.
Contoh Sederhana Penyesuaian
Misalkan sebuah perusahaan ritel mencatat laba bersih Rp200 juta di akhir tahun. Selama tahun tersebut, beban depresiasi peralatan toko tercatat Rp30 juta. Piutang usaha naik dari Rp50 juta menjadi Rp80 juta. Utang dagang naik dari Rp20 juta menjadi Rp35 juta.
Maka perhitungan arus kas dari aktivitas operasionalnya akan terlihat seperti ini:
| Pos | Penyesuaian | Jumlah (juta Rp) |
|---|---|---|
| Laba bersih | Titik awal | +200 |
| Depresiasi peralatan | Tambahkan (non-kas) | +30 |
| Kenaikan piutang usaha (Rp30 juta) | Kurangkan (kas belum masuk) | -30 |
| Kenaikan utang dagang (Rp15 juta) | Tambahkan (pengeluaran ditunda) | +15 |
| Arus kas bersih dari operasi | +215 |
Perhatikan bahwa meski laba bersih hanya Rp200 juta, arus kas operasional mencapai Rp215 juta. Ini karena depresiasi dan kenaikan utang dagang menambah kas tersedia, meskipun piutang yang belum tertagih sedikit menarik ke bawah.
Kelebihan Metode Tidak Langsung
Alasan metode tidak langsung menjadi pilihan dominan bukan tanpa dasar. Ada beberapa keunggulan konkret yang membuatnya lebih disukai praktisi akuntansi di lapangan.
- Data sudah tersedia. Semua angka yang dibutuhkan sudah ada di laporan laba rugi dan neraca yang memang wajib dibuat. Tidak perlu sistem pencatatan kas tambahan.
- Lebih efisien untuk perusahaan besar. Perusahaan dengan ribuan transaksi per bulan akan sangat kesulitan melacak setiap penerimaan dan pengeluaran kas secara terpisah seperti yang dituntut metode langsung.
- Memperlihatkan hubungan laba dan kas. Perbedaan antara laba bersih dan arus kas operasional memberi informasi penting: apakah perusahaan untung di atas kertas tapi kekurangan kas, atau sebaliknya.
- Diakui oleh standar internasional. PSAK 2 dan IAS 7 sama-sama mengizinkan metode ini, sehingga laporan yang menggunakannya tetap dapat dibandingkan secara global.
Kekurangan yang Perlu Diketahui
Tidak ada metode yang sempurna. Metode tidak langsung memiliki satu kelemahan mendasar: kurang transparan dalam menampilkan dari mana dan ke mana kas sebenarnya bergerak.
Pengguna laporan keuangan seperti investor atau kreditor mungkin ingin tahu: berapa kas yang benar-benar diterima dari pelanggan? Berapa yang dibayarkan ke pemasok? Metode tidak langsung tidak menjawab pertanyaan ini secara langsung. Angka-angka yang muncul adalah hasil penyesuaian matematis, bukan catatan aliran kas yang nyata.
Itulah mengapa beberapa analis keuangan, ketika mengevaluasi likuiditas perusahaan, lebih menyukai laporan yang menggunakan metode langsung meski lebih jarang tersedia.
Perbedaan Metode Langsung dan Tidak Langsung
Secara hasil akhir, kedua metode akan menghasilkan angka arus kas dari aktivitas operasional yang sama. Perbedaannya hanya pada cara sampai ke sana.
| Aspek | Metode Langsung | Metode Tidak Langsung |
|---|---|---|
| Titik awal | Penerimaan kas dari pelanggan | Laba bersih |
| Sumber data | Catatan kas terperinci | Laporan laba rugi + neraca |
| Tingkat detail | Tinggi, per jenis transaksi kas | Rendah, berbasis penyesuaian |
| Kemudahan penyusunan | Lebih sulit, butuh data lebih banyak | Lebih mudah, data sudah ada |
| Dianjurkan PSAK 2 | Ya (lebih dianjurkan) | Ya (diizinkan) |
| Kepopuleran di praktik | Jarang digunakan | Paling banyak digunakan |
Kaitan dengan Pemantauan Kas Harian
Laporan arus kas adalah dokumen periodik yang biasanya disusun bulanan atau tahunan. Di antara waktu penyusunannya, kondisi kas perusahaan sehari-hari biasanya dipantau melalui prosedur tersendiri. Salah satu caranya adalah melalui proses cash opname, yaitu pemeriksaan fisik uang tunai untuk memverifikasi bahwa saldo kas di pembukuan sesuai dengan kas yang benar-benar ada.
Kedua instrumen ini saling melengkapi: laporan arus kas memberi gambaran pergerakan kas selama satu periode, sementara cash opname memastikan keakuratan saldo kas pada satu titik waktu tertentu.
Bagi tim keuangan, memahami metode tidak langsung berarti memiliki kemampuan membaca cerita di balik angka laba bersih. Laba yang besar tidak selalu berarti kas yang sehat, dan arus kas yang negatif belum tentu berarti perusahaan dalam masalah, terutama jika investasi besar baru saja dilakukan. Laporan arus kas metode tidak langsung adalah alat yang, jika dibaca dengan benar, bisa memberi gambaran kesehatan finansial perusahaan jauh lebih utuh dari sekadar angka laba di laporan laba rugi.